Kurn kurnia

Semoga bukan impian di kaki pelangi!!!

Jagoanku

Jagoannya berbadan tegap, atletis dan punya sorot mata yang membuat hati para gadis (juga ibu-ibu) meleleh.

Tentu saja ia pembela kaum yang lemah, kaum yang tertindas. Dia bisa hadir dari antah berantah untuk menyelamatkan ibu yang hampir tertabrak kereta api. Atau menyelamatkan kapal terbang yang mengalami kecelakaan, atau menyelamatkan para sandera tidak berdosa dari makhluk-makhluk planet lain.

Para penjahat itu tentu saja harus membuat kita geregetan. Rasanya kita ingin segera membinasakannya, mengalahkannya, tapi kita tak berdaya. Dan para penjahat itu tahu kita tidak berdaya. Mereka menyeringai.

Tapi tak mengapa. Biarkan mereka berbuat ulah, tunggu saja sampai Jagoan kita turun tangan membela keadilan. Dengan kemampuan luar biasanya dia mampu membuat para penjahat itu tunggang langgang.

Tapi para penjahat pantang menyerah, dengan intrik-intrik dan rencana busuk mereka berhasil membuat jagoan kita tak berdaya. Mereka menawan kekasih hati sang jagoan.

Cinta sekarang menjadi dilema, menyelamatkan cintanya atau menyelamatkan dunia dari ancaman para penjahat tengik itu. Ahhh.... kita ingin rasanya membantu, tapi kita tak berdaya.

Jagoan kita memutar otak. Dengan segala kepintarannya, dia berhasil membalikkan keadaan. Para penjahat itu bertekuk lutut dan binasa.

Sang Jagoan mencium bibir kekasih hatinya. Dan kita turut bergembira.


Bangkok, 7 November 2009
Jagoan lokal keok semua?

(Semoga) Bukan Republik Dagelan!!

Babak 1 - Siapa Dalang Pembunuh Nasrudin?

14 Maret 2009:
Telah terjadi penembakan terhadap Nasrudin Zulkarnaen, salah seorang direktur PT Putra Rajawali Banjaran. Nasrudin dibunuh seusai bermain golf di Kawasan Lapangan Golf Modern. Dia dibunuh saat duduk dikursi kiri belakang mobil BMW abu-abu. Lokasinya di dekat Danau Modernland, Cikokol, Kota Tangerang. Korban ditembak dua kali mengenai jendela mobil lalu mengenai pelipis kiri korban. Nasrudin meninggal keesokan harinya di RSPAD Gatot Soebroto.

30 April 2009: Kapolri mengkonfirmasi penangkapan pelaku penembakan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasruddin. Pelaku yang ditangkap ada sembilan orang, mulai dari eksekutor hingga otaknya. http://www.kompas.com/data/lipsus/antasari/alur.html

Dalam penyidikan polisi, muncullah nama Antasari Azhar, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada saat itu.

1 Mei 2009: Mabes Polri mengeluarkan surat perintah pencekalan kepada Antasari Azhar. Antasari kemudian dinonaktifkan dari jabatannya sebagai ketua KPK.

4 Mei 2009: Setelah memenuhi panggilan Polri sebagai saksi, Antasari resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dalam penyidikan, polisi menduga Antasari Ashar adalah "otak" dibalik pembunuhan Nasrudin.

8 Oktober 2009: Sidang kasus Antasari digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Jaksa penuntut umum mendakwa Antasari dengan Pasal 55 ayat (1) Ke-1 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP Jo Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati.

Masalahnya yang harus dibuktikan penyidik (dalam hal ini Polri) adalah motif yang melatarbelakangi pembunuhan tersebut. Penyidik kepolisian menyakini motif tersebut adalah hubungan cinta segitiga antara Nasrudin, Antasari Azhar dan seorang wanita bernama Rani Juliani.

Berikut ini adalah cuplikan dari Kompas.com hari Kamis, 8 Oktober 2009 | 14:04 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Adik kandung almarhum Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen, Amirudin Zulkarnaen, menyayangkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap Antasari Azhar yang dianggapnya lemah.
"Saya hanya tersenyum. Anda lihat sendiri. Yang jelas dakwaan sangat lemah," ucap dia kesal. Ia ikut hadir dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bersama dua anggota keluarganya lain. Hal itu dikatakan ketika dimintai tanggapan atas dakwaan JPU.
Tanpa berburuk sangka terhadap proses peradilan, mari kita tunggu kelanjutan persidangan kasus Antasari ini. Benarkah Antasari memang "otak" dibalik pembunuhan itu?

Benar atau tidak yang jelas Antasari menyeret beberapa nama dalam penyidikannya di Mabes Polri, diantaranya Chandra M Hamzah dan Bibid Samad Riyanto (keduanya adalah pimpinan KPK).


Babak 2 - Cicak Versus Buaya

Sementara kasus Antasari sedang memasuki tahap persidangan, Polisi menindaklanjuti keterangan yang diberikan oleh Antasari selama dalam penyidikan.

Istilah Cicak lawan Buaya merupakan ungkapan yang dipopulerkan oleh Ka Bareskrim Susno Duadji berkaitan dengan tudingan bahwa teleponnya telah disadap oleh KPK yang tengah menyidik dugaan korupsi pada penyelamatan Bank Century pada bulan Juni 2009. "Ibaratnya disini Buaya, disitu Cicak. Cicak kok melawan Buaya" katanya http://www.tempointeraktif.com/hg/flashgrafis/2009/07/14/grf,20090714-188,id.html

Terdapat nuansa yang berbeda ketika Polisi mulai melakukan penyidikan terhadap KPK. Publik merasakan nuansa "balas dendam" Buaya kepada Cicak dengan melakukan penyidikan balasan.

11 September 2009: Empat Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memenuhi panggilan pihak Polri sebagai saksi dugaan penyalahgunaan wewenang. "Kalau sumbernya dari laporan Pak Antasari," kata Bibit Samad Rianto, Wakil Ketua KPK, dalam keterangan persnya di Gedung KPK.

15 September 2009: Polisi kembali memanggil dua pimpinan KPK, Chandra M Hamzah dan Bibid Samad Riyanto. Pada akhir pemeriksaan, Polisi menetapkan keduanya sebagai tersangka. Polri menjerat keduanya dengan pasal 23 UU No 31 Tahun 1999 tentang penyalahgunaan wewenang dan pasal 12E UU No 31 tahun 1999 tentang pemerasan.

Score sementara: 1:0 buat Buaya

16 September 2009: Berikut adalah kepala berita di www.kompas.com yang berisi mendukung Cicak sehari setelah penetapan tersangka:

17:40 WIB - Puluhan Tokoh Nasional Dukung KPK
16:14 WIB - Masyarakat Anti Korupsi Praperadilankan Polri
15:27 WIB - Bilang Polisi Buaya, Kapolri Didesak Copot Susno
13:53 WIB - Beri Dukungan, BEM Seluruh Indonesia Datangi KPK
13:36 WIB - Dibantah, Sisa Pimpinan KPK Bakal Mundur
13:33 WIB - KPK, Berjuanglah hingga Titik Darah Penghabisan
12:56 WIB - Jika Polisi Tak Bisa Buktikan, Ini Jelas Skenario Koruptor
12:30 WIB - Ada "Skenario" Beri "Pelajaran" untuk KPK
12:19 WIB - Pemberantasan Korupsi Terancam, Indonesia Diadukan ke PBB
11:16 WIB - Apa Urusan Polisi Tangani Penyalahgunaan Wewenang KPK?
10:33 WIB - Polri Diharapkan Bereskan KPK Tanpa Sentimen
10:00 WIB - Dua Pimpinan KPK Harus Jalan Terus!

17 September 2009: Puluhan anggota Malang Corruption Watch (MCW) berdemonstrasi menolak aksi kriminalisasi KPK. Mereka juga menolak penetapan RUU Pengadilan Tipikor versi panitia kerja DPR yang saat ini tengah dibahas.

Dari berbagai reaksi masyarakat, terlihat jelas bahwa ada "ketidakrelaan" si Cicak ditindas Buaya. Dukungan ini mengubah Score sementara: 1:1

22 September 2009: KPK menerima surat Keputusan Presiden No. 74/P/2009 tanggal 21 September 2009 mengenai pemberhentian sementara Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Riyanto sebagai Wakil Ketua KPK.

Score sementara: 2:1 buat Buaya

28 September 2009:
Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah melaporkan Susno ke Inspektorat Pengawasan Umum (Itwasum) Polri atas dugaan penyalahgunaan wewenang.

7 Oktober 2009: Hasil pemeriksaan Itwasum Polri diumumkan oleh Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Mabes Polri Komjen Jusuf Manggabarani "Tidak cukup bukti yang menyatakan Komjen Pol Drs Susno Duadji telah melakukan penyalahgunaan wewenang".

Score sementara: 3:1 buat Buaya

14 Oktober 2009: Berkas acara pemeriksaan (BAP) milik Bibit Samad Rianto dinilai belum lengkap oleh pihak Kejaksaan sehingga dikembalikan kepada penyidik (P-19)

19 Oktober 2009: Polisi menyita sejumlah dokumen dari kantor KPK. http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/19/17032468/polisi.sita.sejumlah.dokumen.di.kpk

29 Oktober 2009: Dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah, resmi ditahan pihak Polri. Pada saat yang sama beredar rekaman yang isinya "skenario rekayasa" untuk mengkriminalisasi KPK. Sejumlah nama termasuk RI-1 konon disebut-sebut dalam rekaman tersebut.

Score sementara: 4:1 buat Buaya

29 Oktober 2009: Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto dibentuk. Per detik ini 12.19, 5 Nov 09, jumlah anggotanya mencapai 798.102 orang

1 November 2009: PBNU menengarai adanya proses pemandulan terhadap KPK, mulai dari upaya memotong kewenangannya hingga penahanan pejabatnya.

2 November 2009: Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri meminta maaf atas pernyataan Kepala Bareskrim Komjen Susno Duaji soal "cicak dan buaya"."Itu pernyataan oknum, bukan representasi institusi," kata Kapolri.

Score sementara: 4:2 buat Buaya

3 November 2009: Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang uji materi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK di Jakarta. Norma materiil yang diujikan adalah Pasal 32 Ayat (1) huruf c UU 30/2002 yang terkait dengan soal pemberhentian pimpinan KPK. MK berpandangan, ketentuan Pasal 32 Ayat (1) huruf c UU 30/2002 melanggar asas praduga tidak bersalah.

Pada sidang tersebut, yang lebih menyedot perhatian berbagai kalangan adalah pemutaran hasil penyadapan KPK terhadap Anggodo. Berikut adalah link-nya: http://www.youtube.com/user/misbaccom#g/u

Sidang MK menjadi amat penting dalam perkembangan kemelut Cicak dan Buaya, setidaknya dukungan terhadap Cicak menguat. Memang pemutaran hasil penyadapan ini akan membawa hasil konsekuensi yang rumit dari sisi hukum, tapi biarlah itu urusan para penegak hukum (yudikatif), pemerintah (eksekutif), dan DPR (legislatif). Harap anda sekalian kerja yang benar, kami sudah merelakan gaji kami dipotong pajak buat bayar gaji anda.

Score sementara: 4:3 buat Buaya

4 November 2009: Setelah pemutaran hasil penyadapan KPK pada sidang MK, berbagai desakan ditujukan kepada pihak Polri untuk segera membebaskan Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto. Tengah malam akhirnya Polri mengabulkan penangguhan penahanan terhadap keduanya.

Score sementara: 4:4

Kelanjutan dari perseteruan ini memang masih panjang, tapi karena hari sudah pagi. Terpaksa disudahi dulu sampai disini. Salam dan titip kepada seluruh rakyat Indonesia, jangan biarkan negara kita dijarah koruptor.


Bangkok, 5 November 2009

Dia


Ia memejamkan matanya, tetapi ia tidak tidur. Ingatannya membawa jauh ke masa sekolah menengah dulu. Masa-masa penuh kenangan manis, masa sebelum segala kepenatan hidup datang meradang.

Dia dulu memang mencuri perhatiannya. Wajahnya cantik, sangat cantik menurutnya. Ia tak habis pikir mengapa teman-teman karibnya ada yang tak sepaham dengannya. Sempat ia berdebat membela kecantikannya, mungkin lebih tepat ia sedang membela perasaannya. Ia benci teman-temannya yang tidak mau mengerti perasaannya.

Sayang memang mereka tak pernah sekelas bersama. Tapi apalah yang bisa mengurungkan niat seorang pemuda kasmaran? Hanya terpisah kelas rasanya bukan suatu rintangan.

Ia sering bersiasat, hanya sekadar mencari kesempatan bertemu pandang. Ia ingin tersenyum dan memulai percakapan. Nasib memang akhirnya mempertemukan mereka dalam percakapan-percakapan panjang. Tentu saja lewat telepon, ia merasa terlalu riskan bertemu muka untuk hal-hal remeh temeh yang ingin ia utarakan.

Dengan segenggam koin di kantong, ia memacu sepeda ke boks telepon umum yang jauh dari keramaian. Memang banyak telepon umum di sekitar rumahnya, tapi tempatnya terlalu ramai dan ia tak mungkin membiarkan pengguna telepon lain menggangu perbincangan mereka.

Pembicaraan yang kini datang lagi mengisi kenangan-kenangannya. Tentang masa perkuliahan nanti, tentang keluarga, tentang gundah hatinya karena seribu sebab remaja puber. Ia merasa dekat, tapi tak pernah sekalipun mereka bercakap seperti itu saat bertemu di sekolah.

Hanya di satu pagi yang indah, ia membawakannya setangkai mawar.

Seperti apa hidupnya kini? Berbahagiakah dia? Sedikit kerinduan menyelusup, ada desir menggetarkan kalbu, lalu ia mengucap sedikit doa untuknya.

Mungkinkah ia ingin berjumpa?


Bangkok, 26 Oct 09

Waktu yang Menyapa


"Mengapa terburu-buru?" tanya sang waktu.


"Heh... Kau yang mengejarku atau kini aku memburumu. Terserahlah, kini aku tak begitu tahu"

"Iya, tapi kancingkan dulu celanamu!"

"oh!" dan aku tersipu


Bangkok, 13 Oktober 2009

Awan

Awan adalah awan,
ketika meretas ia menjadi hujan.
Manusia bergegas sepanjang jalan,
semoga selamat sampai tujuan.


Terang Bulan

Terang bulan terang di kali
Buaya timbul disangka mati
Adik manis kapan kembali
Akan ditunggu sampai kan nanti

Terang bulan terang di kali
Disangka mati setiap hari
Abang bukan berbasa-basi
Ditindas rindu setengah mati

Terang bulan terang di kali
Kali bergolak bergoyang-goyang
Abang bukan senang menanti
Tapi adik selalu terbayang

Bangkok, 5 okt 09

kamu



yang terpisah
-- rindu

yang terjumpa
-- syahdu

yang pergi
--waktu

yang datang
--ragu

yang nyata
--pilu

yang maya
..........................kamu


Bangkok, 30 Sept 2009

Catatan Sekitar 080808

25/06/09 King of Pop, Michael Jackson meninggal karena sebab-sebab yang penuh misteri. Polisi masih menyelidiki beberapa orang yang diduga kuat menyebabkan kematiannya. Kematiannya mengguncang dunia, lagu-lagu hit lawasnya diputar di seantero mall, stasiun radio dan televisi di seluruh dunia. Pemakamannya pun tak kalah heboh, mungkin setara dengan pemakaman Lady Diana dulu.

17/07/09 Jumat pagi sebuah bom meledak (lagi) di JW Marriot hotel dan beberapa saat kemudian juga meledak di Ritz Carlton hotel, Jakarta. Rupanya sang teroris paham benar bahwa sekuel harus menampilkan sesuatu yang baru. Bom yang konon telah dipastikan merupakan bom bunuh diri ala gerombolan Nurdin M Top.

03/08/09 Michael Schumacher, juara dunia 7 kali dari Tim Formula One Ferrari "come back". Dia rencananya akan bertarung di Grand Prix Valencia 23 Agustus nanti. Beritanya tidak seheboh kematian MJ or Bom Mariott II, tapi beberapa teman di Face Book menjadikannya bahan diskusi.

4/08/09 Mbah Surip yang secara fenomenal merebut perhatian publik Indonesia, meninggal dunia. Ada cerita di belakang layar tentang si mbah yang satu ini, dia adalah inspirator salah satu acara di Trans TV: Good News. Kala itu si mbah ikut memeriahkan atraksi di panggung "off air" hut Trans TV, dan dia berkeluh-kesah tentang pemberitaan televisi Indonesia yang isinya mengangkat berita-berita buruk semua. Dia khawatir bilasanya terlalu banyak keburukan yang disiarkan, hasilnya juga buruk. Bagi saya, kematiannya mengingatkan saya pada Almarhum Gombloh, artis beken di tahun 80-an.

05/08/09 Mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, pergi ke Korea Utara dan bertemu dengan bos besar negeri tersebut, Kim Jong Ill. Misinya diberitakan sebagai misi kemanusiaan untuk membebaskan 2 orang jurnalis Amerika Serikat yang ditahan oleh pemerintah Korea Utara dengan tuduhan perbuatan melawan negara. Kedua jurnalis ini telah dijatuhi hukuman kerja paksa 12 tahun di Korea Utara. Bill Clinton akhirnya berhasil membawa pulang kedua orang jurnalis tersebut, bahkan Presiden AS Barack Obama mengucapkan selamat atas keberhasilannya.

7/08/09 WS Rendra, si burung merak, salah satu ikon dunia sastera Indonesia meninggal dunia. Ucapan selamat jalan buat mas Willy di status FaceBook saya: Ooohhh si burung merak pergi tapi kini bukan untuk kawin lagi. "Lalu kemana jiwa pergi?" Jangan kau paksa aku tahu karena misteri tak hendak mengungkap jati diri . Hanya penyair hidup dalam suluk, bersama Cebolang kan berlari, takkan berkejaran sampai batas sepi <>
Fri at 9:23am · Comment · Like


08/08/09 terjadi pengepungan terhadap sebuah rumah di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Tim Densus 88 Anti Teror, telah mengepung rumah tersebut sejak hari kemarin (07/08/09). Saya tidak menonton siaran televisi di Indonesia, tapi katanya disiarkan langsung oleh TV One, dan juga Metro TV yang mungkin merasa kecolongan. Awalnya diduga Nurdin M Top berada di dalam rumah tersebut, tapi setelah pengepungan selesai dengan tewasnya orang-orang dalam rumah tersebut, keraguan menyebar apakah benar Nurdin M Top berhasil diringkus.

Maaf bila ada peristiwa yang terlupa, tolong dilengkapi saja sendiri. Saya tak bermaksud menulis kalaidoskop, hanya sekedar mencoba mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa saat belakangan ini. Momen 080808-nya mungkin sebagai persiapan saja untuk 090909. Setahu saya sudah banyak yang "booking" untuk menikah pada tanggal tersebut. Apakah itu termasuk anda? hahhh anda berencana menikah lagi ditanggal tersebut?!!!

;p
Bangkok, 09/08/09

Jalan


Ia susuri jalan itu sampai jauh, di kiri-kanannya jajaran toko-toko mulai berbenah dan sebagian telah menutup gerainya. Lampu jalan memberi sedikit terang, tak lebih terang dari neon-neon papan iklan toko yang menggantung. Adzan magrib tak berkumandang disini. Tak seperti di kampungnya, dimana senja adalah perselingkuhan lembayung jingga, bintang timur, dan kumandang suara muadzin yang bersahut-sahutan.

Temaram saat senja datang sejak lama membuat pandangannya kabur, entah karena kini ia membutuhkan kaca mata atau senja seharusnya memang begitu. Seekor anjing berlari melewatinya, tak acuh pada tumpukan sampah yang teronggok di sana-sini jalan.

Sejenak kemudian ia sampai di depan sebuah mini market, ia melongok ke dalam. Beberapa pelanggan tampak berupaya memenuhi keranjang belanjaan mereka, beberapa orang mengantri di kasir. Si kasir tampak serius, memandang curiga lembaran uang yang diterimanya, mengecek keasliannya di bawah sinar ultra-violet, lalu menghitung kembalian dengan cermat. Ia hanya sejenak menatap pelanggannya seolah menyuruhnya lekas membayar saja dan pergi. Entah mungkin karena sudah punya janji, entah karena lelah, atau karena memang itu perwatakannya.

Tak ada niatan untuk masuk, ia tak punya kepentingan. Ia mencari ruang pada emperan mini market untuk duduk, kakinya lelah. Hatinya sedikit terhibur dengan udara sejuk AC yang menghambur dari pintu setiap kali ada pelanggan yang masuk ataupun keluar. Udara di sini memang seperti tak terpengaruh senja, panas tetap saja menggantung walau matahari telah terbenam.

Dari tasnya ia mengeluarkan sebungkus rokok, isinya tinggal sebatang dua batang. Sejenak kemudian, harum cengkeh yang terbakar terbungkus asap tembakau serasa menghangati paru-parunya.

Ia mencoba berhenti merokok sejak lama. Ia tahu rokok tak baik bagi batuknya, tapi berulang kali ia berhenti hanya untuk memulai kembali. Ia tak lagi terlalu perduli akan mati karena kanker paru-paru atau radang otak seperti yang diiklankan di bungkus rokoknya. Ia merasa mungkin saja ia akan binasa karena beribu sebab lainnya. Beribu sebab remeh-temeh yang kini tak terpikir olehnya. Bukankah orang bisa mati karena menyeberang jalan, atau bahkan saat bercinta dengan selingkuhannya.

Baginya kini, peringatan tentang bahaya merokok tampak sama absurd seperti peringatan orang-orang di kampungnya yang berbondong-bondong menabuh bedug, kentongan dan segala macam bunyi-bunyian pada saat gerhana matahari untuk mengusir Buto Kala, sambil berteriak-teriak memperingatkan perawan-perawan kampung untuk bersembunyi di kolong ranjang bila tak ingin dibawa pergi sang Buto. Dulu memang ia sangat takut pada Buto. Mungkin saja sang Buto lapar dan ingin seorang anak kecil untuk santapannya! Ia pun ikut bersembunyi di kolong ranjang.

Pikirannya mengawang dan bermain dengan kepulan asap dari hidungnya yang lalu lenyap tersaput angin. Mimpinya tak lagi rumit dan masa depan tak lagi menjajahnya. Kini ia terlalu tegar untuk dikalahkan masa depan yang selalu tak pasti.

Ada masa ketika ia menautkan harapan pada bintang-bintang untuk memberi terang jalan. Ia pernah mendengar cerita bintang menuntun orang-orang Majus memberi hormat pada bayi Kristus. Mungkin memang nasib kita tertakik pada gemintang, ia tidak pernah tahu pasti, tapi dulu ia percaya. Kini ia memang masih memandangi bintang, hanya untuk menempatkan dirinya pada perspektif yang jelas bahwasanya ia terlalu kecil untuk menjadi sesuatu di alam semesta yang luas. Kini pada gemintang ia larut, ia hilang, dan menemukan dirinya kembali.

Tak terasa ia sudah sampai pada hisapan penghabisan. Tapi pikirannya masih mencoba mengingat kapan perjalanannya dimulai, entah berapa lorong disusurinya dan pelabuhan-pelabuhan asing disinggahinya. Mungkin sudah terlalu lama hingga kekasih hatinya tak lagi menunggunya. Ia kini menyusuri lorongnya sendiri, bersama seorang yang ia tak kenal.

Puntungnya ia lempar dan berharap terjatuh pada tempat sampah dekat tiang listrik, ia berharap saja dapat berjumpa dengannya di suatu waktu di senja yang baik, mungkin di suatu taman kota, duduk bersama memandang langit senja, menikmati bintang timur dan suara adzan yang mendayu.

Tanpa kepedihan, hanya kerinduan.


Bangkok, 25 Juli 09

Dosa Bapak Kami


Kepak sayap waktu
melekat erat pada hati
meninggalkan jejak
meraja sepi

Karat pada rabu
mengekalkan kuasa
dosa bapak kami
di taman Allah dulu

Doa tak menebus dosa
hanya darah dan keraguan
tertancap tombak pada rabu
pengorbanan anak bapak kami


Bangkok, 1 Agustus 2009

Petualang


Kapal yang tersandar pada dermaga bergoyang seirama ombak. Tiang-tiang layar menjulang diselimuti temaram senja dan semilir angin laut. Jerit camar dan amis beradu di udara, tak mau mengalah pada gemuruh guntur yang terdengar menjalar dari kejauhan.

Sebentar saja gerimis turun, seolah hendak membasuh petualang yang sejenak rehat dari haru-biru kalbu. Pada bibirnya terselip sebatang rokok. Asap yang mengepul, pekat dengan resah yang terselip di dada. Mungkin saja ia berharap resahnya tersaput hilang dalam kelam malam.

Di sini pelabuhan asing baginya, hiruk-pikuk penumpang yang berhambur dari kapal yang baru merapat sebentar menarik perhatiannya. Bergegas mereka berlalu, bergegas mereka menuju gedung penjemputan dimana sanak-kerabat menyambut dengan pelukan dan kerinduan. Tapi tak seorang pun yang mengharapkannya, di sini dia asing.


Badannya disandarkan pada tiang lampu yang tak sanggup memberi terang pada jalan. Seekor anjing geladak asyik mengais tumpukan sampah tak dihiraukannya. Ia memandangi lautan, ombak yang beriak tak terlihat dengan pasti, hanya deburnya rutin menghantam tepian dermaga terdengar tak asing.

Ingatannya terbawa jauh pada pantai di mana ia ukirkan janji yang kini terasa sukar untuk ditepati. Janji yang hanya mungkin terpenuhi oleh nasib yang berpihak, oleh umur yang tak berpaling terlalu cepat. Tapi bukan penyesalan yang membuatnya berlayar dan terdampar dari satu dermaga asing ke dermaga asing yang lain.


Kabar yang samar-samar terdengar tak hendak dipercayainya, yang ia tahu bidadari lautan membawa kekasihnya ke negeri yang jauh, lebih jauh dari batas cakrawala. Karenanya, Ia mencari. Ia terus mencari. Dari pelabuhan asing ke pelabuhan asing ia akan berlayar, di mana para penjemput menyambut kerinduan hanya untuk orang-orang yang tak dikenalnya.

Untuk yang penghabisan rokoknya dihirup dalam-dalam. Dari suatu pelabuhan asing, ia merindukan kekasih hatinya.


Bangkok, 18 Juni 2009

AnguliMALA

Ini adalah malam yang penuh dengan tanda-tanda buruk. Awan pekat memang sudah berlalu, tapi suara burung gagak tak lekang tersapu angin yang bertiup. Tak ada rembulan yang menggantung di langit, gugusan Bintang Pencuri muncul dari balik cakrawala pada jam penghabisan. Di saat inilah Ahimsaka lahir.

Ayahnya adalah pendeta tinggi istana, penuh waskita dan bijaksana. Cemas akan tanda-tanda yang dibawa malam, tapi hanya bisa berharap bahwasanya anaknya kelak tidak membawa malapetaka. Doanya dilekatkan pada nama si jabang bayi, Ahimsaka yang berarti tiada kebinasaan.

Ahimsaka tumbuh menjadi pemuda yang cakap, segera ayahnya mengirimnya ke Taksila, pusat pendidikan terkenal yang penuh dengan kaum cerdik cendikia. Ahimsaka memiliki ketekunan dan sikap hormat luar biasa pada guru-gurunya. Ia menjadi murid kesayangan maha guru di sana.

Terbakar iri dan dengki, murid-murid lainnya memandang Ahimsaka dengan kebencian. Kesepakatan busuk tercapai dan rencana jahat dilancarkan untuk menyingkirkannya.

Suatu malam, sekelompok murid menemui sang maha guru di kediamannya. Mereka mengeluhkan kecongkakan dan sikap buruk Ahimsaka di hadapan sang guru. Sang guru menghardik murka kepada murid-muridnya itu. "Keluar kalian manusia iri hati!" teriaknya marah.

Pada malam yang lain, sekelompok murid lainnya meminta ijin bertemu sang guru. Mereka melaporkan hal yang sama tentang sikap congkak Ahimsaka dan gembar-gembor bahwasanya sebentar lagi ia akan dapat mengalahkan sang maha guru. Sekali lagi sang guru murka, murid-murid berhamburan diterjang raungan marah. Tapi kali ini hatinya tak tenang. "Mungkin saja Ahimsaka berlaku seperti itu, beberapa murid sudah melaporkannya, tapi apa iya?"

Di tengah rasa bimbangnya, sekelompok murid yang lain datang menghadap. Kali ini sang guru meminta pendapat mereka tentang Ahimsaka. Mula-mula murid-murid tersebut memuji betapa cakapnya Ahimsaka, tetapi kemudian mereka mengatakan bahwa Ahimsaka pintar pula bersandiwara. Mereka berkisah bahwa Ahimsaka seringkali menganggap remeh sang guru sebagai orang yang sudah tua dan mulai pikun.

Sang guru terbakar amarahnya dan memutuskan untuk menyingkirkan Ahimsaka.

Malam ini memang penuh tanda-tanda buruk. Ahimsaka telah bersiap dengan sebatang golok besar di tangan. Di pinggangnya menggantung belati kecil. Dengan penuh rasa haru dan terima kasih ia memberi penghormatan pada sang guru, "ooh bapakku, aku tak akan pernah mengecewakanmu, akan kupenuhi syarat terakhir darimu, seribu nyawa manusia sebagai balasan yang kau mintakan atas semua ilmu yang kau berikan padaku!"

Sang guru berfikir bahwasanya salah satu dari para calon korban Ahimsaka pasti melawan dan mungkin saja dapat membunuhnya. Atau pasukan kerajaan akan memburunya, atau orang-orang kampung akan mengejar dan membalas dendam. Ia yakin siasatnya ampuh untuk menyingkirkan Ahimsaka.

Ahimsaka berlalu dan lenyap di telan gelapnya belantara. Malam itu, teror mengerikan di mulai. Tak ada yang lolos dari pedang Ahimsaka, hutan tak lagi aman, ketika orang-orang takut dan tak pernah lagi masuk ke hutan. Ahimsaka mulai masuk ke desa-desa.

Penampilan Ahimsaka telah berubah, dari seorang pemuda tampan penuh sinar kehidupan. Menjadi seorang manusia bengis berwajah mengerikan, rambutnya tak terurus, matanya nyalang. Hatinya membatu dengan tekad untuk sesegera mungkin menunaikan tugas terakhir sebagai baktinya terhadap sang guru.

Entah seberapa banyak yang sudah ia bunuh, tapi ia tak akan lupa. Ia memotong ibu jari semua korbannya, dan merangkainya menjadi kalung untaian jari manusia. Pemandangan yang mengerikan sehingga orang-orang mulai menjulukinya Angulimala, orang yang berkalung jari manusia.

Malam ini Angulimala berhitung, sudah 999 jari manusia ia kalungi. Malam ini adalah malam penghabisan baginya. Hanya perlu satu nyawa lagi untuk menunaikan tugasnya. Angulimala menunggu pada tikungan jalan desa yang gelap.

Kabar orang yang berkalung manusia akhirnya sampai ke ibu kota. Mungkin memang pertalian nasib yang sukar dijelaskan ketika ibu Ahimsaka merasa cemas. Ia bermimpi putranya terbunuh oleh orang-orang kampung dengan brutal, ia bermimpi bahwasanya putranya berkalung jari jemari manusia. Ia tersentak dari mimpinya menggigil dan segera berlari keluar istana tanpa seorang penjaga pun menyadarinya.

Ia berlari dan terus berlari menuju jalan desa dimana Angulimala sabar menunggu korban terakhirnya...

Nasib mungkin memang sesuatu yang absurb, sepertinya ia memang menolak untuk kita mengerti. Akankah Angulimala bertemu dengan seorang perempuan tua yang berlari dan membunuhnya?

Bangkok, 8 May 09

Pak AA

Pak AA, ketua KPK yang baru saja di non-aktifkan karena harus menjalani pemeriksaan pihak kepolisian, sedang jadi pusat perhatian. Sejak minggu lalu, berita tentang keterlibatannya pada sebuah kasus penembakan seorang direktur BUMN di Tangerang mulai memanas. Beritanya mengalahkan kekisruhan penghitungan pemilu legislatif, ketidakjelasan penanganan kacaunya daftar pemilih yang akan digunakan untuk pemilu presiden, bahkan mengalahkan serunya proses pencarian pasangan capres-cawapres yang akan bertanding nanti.

Sepak terjang komisi yang dipimpin Pak AA ini memang baru seumur jagung, tapi hasil yang dicapainya cukup memberikan harapan bagi rakyat kebanyakan. Para koruptor diintai, teleponnya disadap, sms-nya dicegat, penggerebekan yang dilakukan KPK selalu berhasil menangkap tangan para pelaku beserta segepok uang, baik di dalam mobil, lobi hotel dan lain-lain.

Tentu saja KPK, juga Pak AA, punya segudang musuh, di pemerintahan, di kalangan dewan legislatif, di kejaksaan dan para pengusaha yang biasanya kebagian proyek pemerintahan. Dan musuh-musuh ini punya kepentingan untuk membuat KPK impoten.

Hari ini proses hukum mulai berjalan, Pak AA dipanggil ke kantor polisi, entah sebagai saksi atau sebagai tersangka masih simpang-siur. Baru pada sore hari saya membaca Detik.Com, beliau diperiksa sebagai tersangka dan langsung mendekam dalam terali besi milik polisi.

Kisah ini tentu saja memiliki nilai jual sangat tinggi, mungkin bila dibikin program ala Reportase Investigasi atau mungkin Termehek-Mehek, akan merajai siaran televisi selama berminggu-minggu. Buat saya, ini adalah ujian kesekian kalinya bagi para jurnalis tanah air untuk menghadirkan pemberitaan yang mendidik dan proporsional.

Seandainya Pak AA bersalah, hukumlah dia. Toh dia penegak hukum dan tahu akan akibat hukum dari segala perbuatannya. Pers harus mulai memisahkan Pak AA sebagai pribadi dengan lembaga KPK. Jangan bunuh KPK, karena saat ini membunuh KPK sama saja dengan membunuh setitik harapan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Maju terus KPK, terus berikan mimpi buruk bagi para koruptor. Caiyoo!

Bangkok, 5 Mei 09

3 Bait Doa


mentari jatuh pada embun pagi
embun berkilau bagaikan tiara
manusia sejenak saja lalu mati
celaka ia tak mengucap doa

Tiga bait Doa:

mungkin memang ngiauw yang bukan ngiuw tapi sejatinya ngiauw dari kucing yang mengendap-ngendap dari balik gelap malam selalu dia tawarkan aku haru yang membiru buru-buru semua lagukan ragu-ragu pada mimpi dan napas yang bersipongan dengan oom dan tante yang bergoyang bersama linggis-linggis para pencuri malam

kata muntahkan makna tak berguna walau otak dan puki kau satukan pada segelas arak dan bibir para pelacur merah marah tak mampu padamkan napsu dan luka terus saja menetes nanah akankah kau mengerti bahwa luka itu tak bisa kau pindahkan pada pesan-pesan pendek dan asap dupa yang kau kirimkan ke pintu surga

ampunan tak diberikan berkah tak diberikan semua doa senyap segala mantera lenyap pada manusia susah senang tak abadi selamanya berenang-renang riang dalam tangis dan air mata api tapi tak pernah juga kumintakan ampunan untuk ragu yang telah Engkau mengerti

amin.


Bangkok, 27 July 09

pemiLOE

Dulu waktu kita mulai demonstrasi, kita minta SOEHARTO lengser. Maka jadilah HABIBIE ketiban rejeki masuk dalam buku hapalan anak sekolah sebagai Presiden Republik Indonesia ketiga. Banyak yang tak rela, bahkan mencoba merendahkan jabatan presidennya dengan nama presiden peralihan. Tuntutan baginya adalah "selenggarakan PEMILU secepatnya, supaya terbentuk pemerintahan yang punya legitimasi".

"Mas, legitimasi itu apaan sih? dulu kita bikin poster REFORMASI, lah itu juga artinya saya masih kurang paham"

Lalu diselenggarakanlah PEMILU, kalo gak salah tahun 1999 sesudah masehi. PEMILU kali ini rakyat harus milih 2 kali, anggota DPR dan Presiden. Sejarah mencatat satu partai yang punya slogan kampanye "Coblos si Moncong Putih" menang telak. Tapi aneh bin ajaib, calon presiden dari partai yang menang PEMILU gagal jadi presiden. Ada aksi penggalangan partai politik penentang MEGAWATI sebagai presiden, mereka menamakan dirinya sebagai POROS TENGAH. Entah apa pula yang di pinggir kiri dan kanannya, sepertinya mereka merasa nyaman berada ditengah.

Maka diusunglah calon presiden tandingan, K.H ABDURAHMAN WAHID, atau tenar sebagai GUS DUR. Ia menjadi Presiden Republik Indonesia yang keempat. Tapi ternyata politik dalam era reformasi itu susah ditebak, dengan berbagai hingar bingar yang katanya bagian dari demokrasi, GUS DUR lengser digantikan wakil presidennya, seperti juga SOEHARTO yang berhenti jadi presiden digantikan oleh wakil presidennya. MEGAWATI lalu mengawali karirnya sebagai Presiden Republik Indonesia yang kelima.

"Mas masih inget gak?"

Pada pemilu selanjutnya, ada seorang jenderal tinggi besar yang ikutan nimbrung dalam bursa pencalonan presiden. Kebetulan sang jenderal berwajah karismatik dan pandai menyanyi. Menurut hasil polling yang tidak scientific, dialah satu2nya yang bisa menyanyi live di televisi. Saat itu, rakyat sudah jenuh dengan teriakan kampanye, dan janji-janji tinggal janji. Rakyat memilih presidennya yang baru, SBY. Pasangan SBY dalam kampanye presiden adalah JK, maka rakyat mengenal duet SBY-JK, hampir seperti duet SOEKARNO-HATTA. Tidak ada pasangan presiden dan wakil presiden yang diingat rakyat dua-duanya, biasanya cuma presidennya doang yang diingat. Coba Mas, siapa saja wapres-wapresnya PAK HARTO selama 32 tahun berkarir sebagai Presiden?!

Untunglah berbagai kerusuhan, krisis ekonomi dan krisis-krisis lainnya tidak membuat Bangsa Indonesia kehilangan selera humornya. Muncullah dagelan SBY-JK, sebagai Presiden Republik Mimpi. Sama kependekannya, tapi kalo dipanjangin beda, SI BUTET YOGYA-JARWO KWAT.

Mas, waktu terasa cepat sekali berlalu. Bulan depan kita sudah harus MENCOBLOS lagi, ... (ralat: sekarang MENCONTRENG). Siapa kira-kira yang bakal jadi presiden selanjutnya?! Bursa dan prediksi sangat seru, ada muka-muka baru, tapi banyak tampang-tampang lama.

Buat saya sekarang, sederhana. Saya mendukung presiden yang punya komitmen Anti Korupsi. Dukung KPK! Minimal SBY terbukti tidak intervensi ketika besannya ditebas KPK! jadi ceritanya: LANJUTKAN ehhehe

"Mas, by the way, kita mau lanjutkan demonya engga nih? Panas-hujan-panas-hujan terus, gizi demonya harus ditingkatkan dong, kalo enggak bisa masuk angin nih!"

Bangkok, 27 April 2009

Aswatama

Angin bertiup sayu, pada senja yang pilu. Ribuan mayat tergeletak penuh luka. Amis darah terkalahkan sengatan bau bangkai yang mulai membusuk. Kawan dan lawan sama saja pada akhirnya, terbujur kaku tak berdaya pada serbuan ribuan burung bangkai yang berpesta.

Perang besar bangsa Bharata mungkin telah usai, seluruh Kurawa bersaudara yang seratus jumlahnya telah binasa. Pasukan yang tersisa kocar-kacir entah kemana. Tapi kebencian tak menyerah begitu saja. Kebencian mengembara dan menemukan Aswatama duduk sendiri pada sebuah bukit di pinggiran Kurusetra.

Aswatama mendesah, matanya nanar, pikirannya kalut. Ia memang berada di pihak yang kalah, sudah tak ada lagi yang patut diperjuangkan olehnya. Tapi entah mengapa ia merasa muak tiap kali memikirkan bagaimana ayahnya terbunuh. Ia tahu tak satupun panglima dari pihak Pandawa mampu menandingi kesaktian yang dimiliki ayahnya - Begawan Dorna, kecuali Kresna. Tapi Kresna telah bersumpah tak akan ikut bertarung.

Pikirannya penuh spekulasi ketika benci merasukinya. Panah Prabu Drestadyumna menembus leher ayahnya terbayang dihadapannya. Ia melihat darah semerah marah terpancar, Ia melihat ayahnya meregang nyawa, dan tersungkur di kaki Yamadipati. Sekali lagi ia mendesah.

Aswatama melangkah pergi, ia bertekad untuk menuntut balas. Ia akan menghabisi seluruh Pandawa yang lima jumlahnya sebagai bayaran atas dendamnya. Dalam lindungan malam ia menyelinap ke kemah pasukan Pandawa. Ia menunggu sampai penghujung malam ketika mimpi membuai seluruh musuh-musuhnya.

Dalam gelap ia menuai benci, lima nyawa yang terlelap dalam tidur melayang sudah. Aswatama merasa lega, lima putra Pandu telah tuntas di tangannya. Ia meraung meneriakkan kemenangan. Seketika orang-orang terbangun, kegaduhan terjadi. Terdengar pekik tercekat dari Drupadi, ia menyaksikan kelima putranya tewas dengan leher tergorok. Aswatama segera tersadar, ia telah salah sasaran membunuh putra-putra Drupadi, bukan para Pandawa. Raungannya segera berubah menjadi pekikan kekecewaan.

Setelah sadar apa yang terjadi, Arjuna berlari mencari biang keladi. Ia mendengar pekik Aswatama dan mengejarnya. Baku hantam tak terelakkan, Arjuna yang marah dengan bernafsu ingin segera menghabisi Aswatama. Segebrak dua gebrak Aswatama terdesak, ia mengambil langkah mundur sambil merapal ajian Brahmastha yang dahsyat. Dari kedua belah telapak tangannya mengeluarkan berkas sinar biru menyilaukan, menggumpal dan mengeluarkan suara desing menakutkan.

Arjuna tentu tahu ajian ini, dan juga tahu bahwasanya ia dalam bahaya. Secara refleks ia merapal ajian yang sama. Tarian cahaya biru segera memancar dari kedua belah tangannya, suara desing menderu-deru. Kini keduanya berdiri menghimpun energi sampai ke taraf yang paling tinggi.

Ajian Brahmastha diajarkan oleh Begawan Dorna kepada anaknya, dan juga kepada Arjuna sebagai murid kesayangannya. Kini keduanya berhadapan dalam perang hidup mati berselubung dendam.

Seketika kelam malam menyingkir, langit dipenuhi tarian lidah api laksana sejuta halilintar terlontar bersamaan, suara desing yang bersahutan mengalahkan ribuan guntur, laksana hendak merobek gendang telinga.

Kresna menghardik berupaya menahan keduanya untuk tidak melepas ajian tersebut. Kresna tahu apa yang akan terjadi bila keduanya berbenturan. Pusaran energi yang tercipta akan menarik seisi dunia ke dalamnya, bukan hanya kehancuran dunia, tetapi lenyapnya dunia dari Triloka. Kresna tak hendak membiarkan hal ini terjadi. Bahkan Kresna harus meninggalkan raga dunianya, menjelma ke wadag aslinya sebagai Batara Whisnu untuk masuk ke dalam nurani keduanya, membuka mata batin keduanya pada dendam yang meraja.

Arjuna tersadar pada dendam yang sesaat saja dapat membawa kehancuran dunia, ia segera menarik ajiannya. Seketika tubuhnya lunglai. Tak lama kemudian, Aswatama mengecilkan pula ajiannya, tetapi dendam tetap menghasut dirinya untuk mengambil sedikit kesempatan. Ia melampiaskan sisa ajiannya pada Utara yang tengah mengandung. Seketika hanguslah Utara dan bayi dalam kandungannya.

Bima yang telah pula bersiap menyergap Aswatama maju dengan ayunan gadanya. Aswatama merasa desakan tenaga sebesar gunung menekan dadanya, tapi ia berhasil mengelak. Pertarungan keduanya tak terelakkan. Aswatama yang terkuras tenaganya bukanlah lawan Bima, sebentar kemudian kepalanya hancur terpukul gada Bima.

Aswatama tersungkur. Batok kepalanya belah, darah merah memancar membasahi tanah. Sebentar kemudian darah tersebut serasa bergolak, mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung dendam yang menguap dan lalu bersama hembusan angin. Angin menerbangkan gelembung dendam melintasi jutaan kalpa, terhirup dalam napas tiap insan, mengendap meraja dalam hati, hingga ke akhir jaman.


Bangkok, 22 April 09

Duryodana

Duryodana memang arogan, tapi ia bukan orang yang bodoh. Sebagai putra tertua dari Destarata, Raja Hastina, Duryodana tentu saja merasa sah sebagai pewaris tahta dan dia tak habis pikir ketika ayahnya mewariskan tahta kerajaan pada Yudhistira. Duryodana berang bukan kepalang, dia bersiasat untuk melenyapkan seluruh putra Pandu. Nafsu untuk berkuasa bersekutu dengan kenangan-kenangan buruk masa kecil, kenangan tentang perlakuan Bima padanya dan saudara-saudaranya. Bima adalah yang terkuat di antara mereka, dan dengan kekuatannya itu ia sering mempermainkannya dan seluruh saudaranya.

Duryodana bersiasat, sebuah siasat yang berujung pada terusirnya putra-putra Pandu dari Hastina. Duryodana tahu, ia harus menghabisi semuanya sebelum mereka membangun kekuatan dan datang mengalahkannya.

Untung bagi Duryodana, Hastina bukan kerajaan yang kurang orang pandai dan sakti. Bhishma masih segar bugar walaupun usianya bisa dikata tua renta, dan semua tahu bahwa Bhishma diberikan keleluasaan oleh para Dewata untuk memilih sendiri hari matinya. Bhishma tak terkalahkan oleh lelaki manapun juga dan punya sumpah untuk membela dan mempertahankan Hastina dari serbuan musuh. Duryodana tahu dan paham, walaupun Bhishma sayang pada anak-anak Pandu, ia tak akan mengalah. Mungkin terlalu naif mengharapkan Bhishma akan memberikan kemenangan baginya, tapi ia bisa berharap bahwasanya Bhishma tak akan mengalah.

Juga ada Dorna, maha guru para Korawa dan Pandawa. Kesaktiannya hanya dapat tertandingi oleh Kresna, titisan Batara Vishnu yang menjadi sekutu putra-putra Pandu. Duryodana bersiasat mengikat Kresna dalam sebuah sumpah untuk tidak melibatkan diri secara langsung dengan turun berperang seandainya memang putra-putra Pandu datang menuntut tahta Hastina.

Juga ada Karna. Ia adalah kunci bagi tahta Duryodana. Bila Bishma dan Dorna punya keterikatan rasa sayang pada putra-putra Pandu, tidak demikian halnya dengan Karna. Karna membenci saudara-saudara tirinya, setelah putra-putra Pandu mencampakkannya dan menghina dirinya. Ya, Karna memang dilahirkan oleh Kunti, ibu dari Yudhistira, Bima dan Arjuna, tapi ia berayah Batara Surya. Sebuah kelahiran yang tak dikehendaki, sebuah kemuskilan yang tak dapat ditolak, oleh karenya Karna lahir melalui telinga, kemustahilan yang diamini dewa-dewa untuk menjaga keperawanan Kunti.

Duryodana lah yang mengangkat harkat dan harga diri Karna, Duryodana lah yang membagi kerajaan dan menjadikan Karna rajanya. Duryodana tahu, bahkan Arjuna, putra Pandu yang paling sakti, bukanlah lawan Karna. Duryodana tahu, Karna memiliki senjata Konta, anugrah Batara Brahma. Tombak yang hanya dapat dipakai sekali, membunuh tanpa luput.

Duryodana sendiri bukan raja tanpa kesaktian, ia juga murid dari Dorna. Gadanya mungkin tak segarang Bima, ia juga memiliki anugrah dari ibunya. Tubuhnya tak akan hancur oleh pukulan gada Bima. Baginya hanya perlu satu kelengahan Bima untuk menghancurkan batok kepalanya. Duryodana merasa kekalahan adalah sesuatu yang absurd. Sesuatu yang hampir pasti tak mungkin terjadi.

Dan Duryodana menunggu hari yang diramalkan tiba, Bharata Yudha. Perang saudara bangsa Bharata antara Korawa bersaudara yang seratus jumlahnya dengan putra-putra Pandu, yang lima jumlahnya. Hari yang ditunggu Duryodana untuk menumpas habis seluruh Pandawa bersaudara.

Entah mengapa Dewa-Dewa berpihak pada Pandawa dan bersiap menghukum Korawa. Bila Duryodana berbuat curang pada permainan dadu yang berakhir hilangnya tahta Hastina bagi putra-putra Pandu, adalah Yudhistira yang bernafsu bahkan mempertaruhkan Drupadi, istrinya dalam pertaruhan tersebut.

Sangkakala di tiup, bunyinya mengaung serupa bunyi sabetan pedang Yamadipati, dewa kematian. Gajah-gajah meraung ketika tambur tanda maju berperang dibunyikan. Panah mengucur dari langit bagai hujan, darah muncrat mewarnai padang Kurusetra semerah marah. Kepala-kepala dengan mata melotot, terpenggal dari badan. Bergelimpangan tak terhitung jumlahnya.

Tak ada tanda-tanda pasukan Hastina kalah, suatu hal yang mencemaskan seluruh panglima perang Pandawa. Mereka mendesak seseorang untuk mengalahkan Eyang Bhishma, yang menjadi panglima perang Hastina. Seseorang yang mereka tidak tahu siapa, seingat mereka tak ada dipihak mereka yang mampu membunuh Bhishma, tidak Bima, juga Arjuna. Mereka dilanda kepastian binasa, sampai Kresna memecah kesunyian dengan mengungkapkan suatu rahasia purba. Suatu kejadian di masa lampau yang tak diketahui oleh para Pandawa, bahwasanya Bhishma terikat sumpah untuk tidak akan pernah melawan wanita.

Bhishma memang mempersiapkan hari matinya, dan hari itu ia rebah oleh ribuan panah Srikandi. Istri Arjuna yang merupakan titisan Amba, yang dulu tewas olah panah Bhishma dan bersumpah akan menuntut balas. Bhismha rebah berbantalkan panah, kepalanya ditopang oleh tiga buah anak panah Arjuna. Pada senja di hari yang baik, Bhishma meninggalkan padang Kurusetra selamanya bersama lembayung yang menggelayut, meninggalkan tangis bagi seluruh bangsa Bharata.

Perang berlanjut, Duryodana meminta Dorna untuk memimpin pasukan Hastina. Keadaan menjadi lebih buruk bagi para Pandawa, panah Dorna menewaskan lebih banyak orang dibandingkan panah-panah Arjuna. Kepanikan mulai melanda pasukan Pandawa, pertemuan strategi di kubu Pandawa hanya berisi keluh kesah dan keputusasaan. Sampai lagi-lagi Kresna berbicara.

Kresna mengisyaratkan satu hal untuk membunuh Dorna, bunuhlah harapan dan alasannya untuk hidup. Bunuhlah anaknya, maka semangat hidup Dorna akan lenyap. Tapi Duryodana bukan raja yang tak paham taktik, sejak awal dia tahu hal ini, dia telah memerintahkan Aswatama, anak Begawan Dorna untuk menjadi panglima pasukan logistik, pasukan yang berada jauh dari medan peperangan.

Kresna meminta semua orang percaya padanya. Ia memerintahkan Bima untuk membunuh seekor gajah, yang namanya Aswatama dan berteriak keseluruh medan perang. "Aswatama gugur!". Tentu saja Dorna guncang, tapi ia bukan orang bodoh. Ia harus melakukan pengecekan, ia harus meneliti berita itu. Ia tahu Bima bukan orang yang bisa dipercaya, hanya Yudhistira lah yang selama ini menjaga kejujurannya. Bahkan para dewa menganugerahi kejujuran Yudistira, kereta perangnya tak pernah menyentuh tanah.

Kresna meminta Yudistira untuk mengiyakan bilasanya Dorna bertanya. Sungguh suatu permintaan yang sangat sulit untuk Yudistira, ia rela memberikan kerajaannya, tapi tidak untuk mengiyakan sesuatu yang ia tahu bukan kebenaran. Kresna meyakininkannya, tak perlu berkata-kata, hanya perlu mengangguk.

Ketika akhirnya Bima meremukkan kepala gajah Aswatama dan berteriak lantang "Aswatama gugur!", ketika Dorna datang kepadanya dengan penuh kecemasan dan bertanya. Yudistira hanya mengangguk (dan berkata dalam hati.. "Ya, gajah Aswatama gugur dihantam Bima!"). Seketika Dorna pucat pasi, semangat hidupnya meredup, kesaktiannya menguap, dan Kresna berteriak pada Arjuna untuk melepas panah saktinya. Dorna gugur.

Peperangan berlanjut berhari-hari kemudian. Tak ada tanda-tanda kelemahan di pihak Hastina, walaupun 2 orang panglima perangnya gugur. Hari itu Duryodana meminta Karna untuk memimpin balatentara Hastina dan untuk membalas budi, Karna menyetujuinya.

Dewi Kunti terhenyak, dia tak mungkin membiarkan anak-anaknya saling bunuh. Ia tahu bahwasanya Karna sanggup membunuh seluruh Pandawa seorang diri. Diam-diam ia menyelinap ke tenda Karna, dan sambil menangis ia memohon agar Karna tidak pergi ke medan perang. Karna berujar, "Ibu, aku tahu engkau mencintai Arjuna, lebih daripada yang lainnya, dan aku adalah anak yang tidak pernah engkau kehendaki. Engkau mencampakkan aku, dan membiarkan aku bersumpah membela Duryodana, karena dialah satu-satunya yang membelaku ketika seluruh Pandawa, saudaraku, menghina keberadaanku. Dan kini, Engkau meminta aku berpaling dari sumpahku?"

Dewi Kunti kehabisan tangis, ia tersadar akan kebenaran kata-kata itu. Walaupun tak ada kebencian dalam seluruh kalimat Karna, ia tahu bahwa ia meminta hal yang tidak mungkin. Akhirnya Karna berucap, "ibu, aku tidak akan membunuh kedua putra Dewi Madrim, Nakula dan Sadewa. Aku juga tidak akan membunuh kedua putramu, Yudistira dan Bima. Itu janjiku padamu sebagai ibuku!"

Kresna tahu bahwasanya Dewi Kunti pergi menemui Karna. Ia bertanya padanya apa yang terjadi, dan sambil menahan suaranya ia mengulang janji Karna padanya. ”Ia akan membunuh Arjuna. Ohh.. Kresna, apa yang mesti kita perbuat?”

Di medan perang, Kresna yang menjadi sais kereta perang Arjuna, memperhatikan dengan seksama tanda-tanda keberadaan Karna. Dan diam-diam dia membawa Arjuna menjauhinya. Berhari-hari, Karna mengobrak-abrik pasukan Pandawa, moral pasukan hancur dan Yudistira mengeluh. Ia meminta Arjuna maju untuk menghadapi Karna. Arjuna merasa heran, mengapa ia tidak pernah berjumpa Karna di medan pertempuran dan meminta Kresna untuk membawanya menghadapi Karna.

Tentu saja Kresna tak akan membiarkan hal itu terjadi, paling tidak selama Karna masih memiliki senjata Konta pemberian Batara Brahma. Kresna diam-diam meminta Gatotkaca datang menemuinya. Kemudian ia meminta Gatotkaca untuk menghadapi Karna keesokan harinya. Gatotkaca paham arti permintaan tersebut, Kresna memintanya untuk mengorbankan diri. Kresna mengirimnya untuk misi bunuh diri. Oleh karenanya, pagi-pagi ia bangun dan memberi salam bagi seluruh keluarganya. Tapi ia tak menemui Bima, ayahnya. Ia khawatir bila Bima tahu apa rencana Kresna, Bima yang akan pergi menghadapi Karna.

Gatotkaca bertempur bagai kesetanan. Dari balik awan ia mengirim halilintar, ribuan pasukan Korawa hangus seketika dan lainya kocar-kacir. Tubuhnya menjadi seribu, dengan sekali gebrak, seribu orang binasa. Barisan pasukan Korawa tak lagi utuh dan berdisiplin, kekacauan melanda dan Duryodana cemas, juga ngeri . Ia meminta Karna untuk segera menghadapi Gatotkaca.

Tak mudah mengalahkan Gatotkaca, anak Bima dari Dewi Arimbi, yang ketika lahir membuat guncang kahyangan dan diceburkan ke dalam kawah Candradimuka. Dengan ajian Halimunnya, ia bersembunyi di balik mega. Dengan tiba-tiba ia akan mengirim tinju ke arah Karna. Karna tentu saja tak terima dijadikan bulan-bulanan Gatotkaca, ia berteriak agar Gatotkaca keluar dan bertanding secara ksatria. Tapi Gatotkaca mengejek Karna, dan mentertawakan ketidakmampuan Karna untuk mengalahkannya. Karna pun gusar, harga dirinya berontak, tanpa sadar ia melepaskan Kontawijaya.

Mega-mega tak mampu menyembunyikan Gatotkaca dari Kontawijaya, ia melesat menembus lambung sang Jabang Tetuka. Gatotkaca menyeringai, ia tahu ia berhasil melaksanakan taktik Kresna. Seketika, senjata Konta tersebut sirna dalam bentuk sinar putih melesat ke angkasa. Gatotkaca merasa napasnya memburu, waktunya tak banyak lagi. Ia kemudian mengambang di udara dan bertiwikrama. Tubuhnya berubah menjadi raksasa sebesar gunung. Ketika nyawanya beranjak, tubuhnya jatuh menimpa ribuan pasukan Korawa. Gatotkaca gugur, seluruh pandawa berduka. Bima bagai kerasukan setan begitu tahu putranya gugur. Hanya Kresna yang mengetahui dan lega karena Karna kehilangan senjata andalannya.

Tanpa senjata andalannya, Kresna membawa kereta Arjuna langsung ke arah Karna. Keduanya bertemu di tengah padang kurusetra. Seketika mendung meraja, suasana berubah senyap, angin dingin menggantung. Batara Indra hadir menyaksikan putranya, Arjuna bertarung.

Hanya kereta Karna yang diterangi sinar mentari, Batara Surya menyinari hari-hari terakhir anaknya di bumi yang fana, sebelum akhirnya gugur sebagai ksatria. Para bidadari menangis, dan tetesan air matanya berubah menjadi ribuan bunga yang jatuh dari angkasa menutupi tubuh Karna.

Apa yang tersisa bagi Duryodana. Kemustahilan itu akhirnya datang juga padanya. Seluruh saudaranya tewas dalam pertempuran, bala tentaranya kocar-kacir, para panglima kepercayaannya gugur. Padang Kurusetra terasa menyesakkan kini, medan pertempuran yang pernah menjanjikan kegemilangan raja di raja manusia, kini menghantuinya. Dadanya terasa panas, kakinya berat, pandangannya kabur. Ia menepi dan membiarkan air danau menenggelamnya. Sejenak ia ingin mendinginkan tubuhnya yang serasa mendidih.

Apa yang kini tersisa baginya? Ah air danau memberinya sedikit kesegaran, ia menerawang ingatan-ingatannya. Pada masa-masa kecilnya, ketika mereka semua masih menjadi murid guru Dorna. Pada kekonyolan-kekonyolannya, pada ibu dan ayahnya yang telah tua dan hancur hatinya kehilangan seluruh anak-anaknya. Kebenciannya pada Pandawa terasa melenyap dalam ingatan-ingatan indah akan masa lalunya.

Tiba-tiba danau terasa berguncang. Suara menggelegar dari tepi danau memanggil-manggil namanya. Ia tahu itu suara Bima, ia tahu Bima membencinya dan bersumpah membunuh dan meminum darahnya sebagai balasan atas penghinaannya terhadap Drupadi. Tapi ia tak takut pada Bima, ia tak pernah takut pada kematian, dan kini ia tak lagi takut kehilangan apa-apa.

Ia keluar menemui Bima yang telah siap dengan gadanya. Ia sengaja memberikan pandangan mengejek pada Bima, juga pada para Pandawa lainnya. Ia mengejek mereka yang datang beramai-ramai bagai hendak mengeroyoknya. Sepertinya ia tahu, bahwa Pandawa itu punya kutukan untuk gampang terbakar amarah dan bersumpah. Kata-katanya segera berbuah taruhan dari Yudistira. Seolah tanpa berpikir, Yudistira mengucap sumpah. Bila ia bisa mengalahkan Bima, maka para Pandawa akan mengakui kekalahan dalam perang ini. Dan Duryodana boleh mengambil tahta Hastina selamanya. Tentu saja sumpah tanpa pikir-pikir ini membuat Kresna bagai tersambar petir. Hanya ia yang tahu bahwa Bima tak bisa membunuh Duryodana sembarangan, karena anugrah yang diberikan oleh Dewi Gandhari, ibunya. Duryodana kebal terhadal semua jenis senjata, kecuali pada pangkal pahanya. Kresna tahu karena dulu, dialah yang membuat tipu daya agar anugrah tersebut tak seluruhnya terserap oleh tubuh Duryodana.

Bima segera memulai serangan, tak lama ia berhasil menghantam kepala Duryodana dengan gadanya. Bunyi gemeretak menakutkan keluar dari benturan itu. Duryodana terhuyung dan jatuh. Bima berteriak penuh kemenangan. Tapi cuma sesaat, sesaat saja Duryodana jatuh, kemudia ia bangkit segar buga seperti tak terjadi apa-apa. Tentu saja Bima merasa dipermainkan, berulang kali gadanya berhasil menghantam batok kepala Duryodana, dan berulang kali ia terhuyung, jatuh untuk kemudian bangkit kembali sambil terkekeh-kekeh.

Yudistira mulai cemas, seluruh Pandawa mulai cemas. Apa yang sesungguhnya terjadi, tidak mereka pahami. Yudistira merasa bersalah terlalu cepat mengucap sumpah, kini ia tidak begitu yakin Bima bisa membunuh Duryodana. Diam-diam dia memberi tanda pada Arjuna untuk memanah Duryodana. Hal ini diketahui oleh Kresna dan segera ia menghalangi niatan Arjuna. Sungguh tak pantas bagi kehormatannya membiarkan itu terjadi.

Kresna juga tak dapat membiarkan Duryodana pada akhirnya mengalahkan Bima yang kelelahan. Diam-diam ia menepuk-nepuk pahanya sendiri. Sekilas bahasa tubuhnya itu seperti orang yang cemas, tetapi juga seperti tanda untuk Bima. Seranglah bagian paha Duryodana. Bima yang kehabisan akal, juga kehabisan napas, memahami pesan Kresna tersebut. Ia menjatuhkan diri dan membiarkan Duryodana mendekat dan bernafsu untuk segera mengakhiri Bima yang kelelahan. Tapi apa daya, Bima yang telah bersiap bergerak memukul pangkal paha Duryodana terlebih dahulu. Dentuman dahsyat terdengar saat gada Bima menghancurkan paha Duryodana. Ia jatuh tersungkur, meraung kesakitan. Bima sesaat terpaku, tapi kemudian ia menerjang, menindih tubuh Duryodana, merobek dadanya dan meminum darah dari jantung Duryodana. Bima kemudian membasahi kepalanya dengan darah Duryodana. Sampai akhirnya Kresna berteriak, ”Cukup Bima, sumpahmu sudah terlaksana. Jangan kau biarkan amarah dan benci terlalu lama menguasai dirimu!”

Tubuh Duryodana terkulai, dadanya terbuka, baju perangnya bersimbah darah. Lalu langit terbelah, cahaya putih memancar bagai ribuan air hujan yang turun membasahi bumi. Kidung para bidadari terdengar mengalun bersama mega-mega yang berarak memberikan penghormatan padanya. Konon, ia mengangkasa diterima di swargaloka.

Bangkok, 1 Maret 2009

Pertemuan



Matahari membakar aspal jalan tanpa ampun, mengirim hawa panas menembus pori-poriku. Keringat meleleh menembus kaos yang tak lagi jelas warnanya. Bus kota yang berkejaran seolah tak sabar pada lampu jalan yang berubah merah. Klaksonnya menghambur tanda tak setuju, tapi tak berdaya. 



Sudah persimpangan ketiga kulewati, aku berjalan terus maju. Bukan karena aku tahu jalan, atau arah pasti yang kutuju. Aku hanya segan berbelok, rasanya kelok jalan selalu menyimpan kerumitan-kerumitan baru. Aku mengalihkan langkahku pada bayang-bayang gedung tinggi, menghindari matahari yang meradang. Jam sudah sore, tapi panas masih meraja.


Seseorang dari balik box telepon umum menyapaku. Mungkin seseorang tapi aku tak tahu pasti, tak kupalingkan muka padanya. Hanya suaranya terdengar berat ”Mau kemana, Dik?” Aku bergumam menjawab, tak jelas tentunya. Aku memang tak hendak menjelaskan pada sembarang orang yang berdiri di balik sembarang telepon umum. 



Apalagi jaman kini, rasanya susah untuk percaya sembarang orang di sembarang waktu seperti ini. Kita tak pernah tahu apa arti tanyanya, mungkin saja ia menyimpan niat busuk, mungkin saja. Aku melangkah lebih cepat, meninggalkan tanyanya. Aku menolak sembarang orang menanyakan kemana aku melangkah.


Kakiku memang terasa lebih berat kini. Memang pernah terpikir untuk mengambil jalan pintas dengan menumpang bus kota. Dua jam lalu aku berdiri di halte bis bersama dengan serombongan taruna tentara, seorang bocah dengan seragam sekolah, dan seorang ibu tengah baya yang menjinjing dua buah kantong plastik besar berwarna merah. Tapi tanda-tanda bis kota tak kupahami, hanya berupa angka-angka. Sebentar-sebentar lewat mini bus hijau dengan nomer 44, aku tak tahu itu kemana. Lalu berurutan bus kota nomer 1, 17 dan 143. Aku coba bertanya pada kondekturnya, tapi tak ada kondektur yang mengerti bahwa aku sedang bertanya. Mereka membiarkan aku bicara, seolah radio, tanpa perlu mereka membalas.


Aku menyeberang jalan, memang ini bukan penyeberangan, tak ada tanda zebra cross disitu, tapi aku tak perduli. Aku menyeberang saja, toh dalam hidup tak seharusnya kita menggantungkan terlalu banyak harapan pada tanda-tanda.


Di seberang jalan adalah pintu masuk ke taman kota, bayangan rindang pohon pada rumput hijau menggodaku untuk masuk. Taman yang tak terlalu besar rupanya, serasa seisi kota menumpahkan sesaknya disini. Berderet-deret penjual minuman dan makanan kecil mencoba menawarkan jajanannya padaku. Kubeli air dingin dalam botol tanpa terlampau perduli apa mereknya.

Mataku lalu tertumbuk pada sekumpulan anak muda dengan rambut berwarna-warni. Mereka memasang musik, bertepuk tangan menyemangati. Rupanya sedang menari Cappoeira, sebentar-sebentar mereka berjumpalitan. Bergantian satu-persatu unjuk kebolehan. Kerumunan orang segera terbentuk dan menghalangi penglihatanku.


Aku berlalu, kulewati sepasang sejoli yang sedang bertengkar. Sebenarnya aku tak tahu pasti apakah mereka sepasang sejoli, tapi mereka sedang bertengkar. Kupalingkan wajah menolak menjadi saksi pada pertengkaran yang tak kupahami.


Di pojok taman, pada sebuah bangku yang penuh coretan, aku duduk meneguk air dingin dalam botol, kesegaran sedikit mengalir pada kerongkongan yang penuh kegelisahan. Kudengar alunan suara gadis di seberangku, suaranya mengalun bersama bunyi semacam gitar. Tapi tak kudengar lagu populer dari mulutnya, kudengar ia sedang merapal mantra, sebuah kalimat dari jaman lampau.


Aku terkesima, tiba-tiba ia berdiri dan menari. Kakinya menghentak seirama mantra. Tiba-tiba aku mendengar suara tabla, dan gemerincing gelang kaki, dan semerbak dupa sewangi melati. Ia terus meliuk memainkan lakon yang terasa akrab bagiku. Ia terus memutar tubuhnya, liuknya merapal mantra, mengubah kepulan kata meretas makna. Matanya terus menatap lurus padaku. Tak hendak kupalingkan penglihatanku dari sesuatu yang terasa akrab bagiku, lagi aku merasa tak sopan telah mencuri pandang pada tariannya.


Ia menghampiriku, dan aku mengulurkan tanganku. Ia menjabat tanganku dengan kedua tangannya dan mendekapnya pada dadanya. Sesaat aku tahu, sesuatu yang tak kuingat tapi aku tahu waktu ia berkata ”aku Kali, senang bertemu denganmu, selalu”.


Dan matahari pun berpasrah pada Cakrawala, hanya menyisakan lembayung senja menggantung. Gelap sebentar kemudian meraja.



Bangkok, 1 Maret 2009

lalu


malam ini bualan menggauli mimpi-mimpi yang busuk sedari dulu.


entah apa yang hendak kujelaskan nanti pada dunia yang terkekeh-kekeh. pipa cangklong yang dihisapnya semakin pekat, semakin tua semakin sulit memahami mimpi-mimpi romantis jaman kini. ataukah jangan-jangan memang kita kelewat naif sampai lupa bahwa berak itu sama perlu dengan bercinta?

malam ini bulan purnama. kesekian kali purnama yang kulewatkan tanpa pernah merasa kehilangan. pernah sesekali kucoba romantis, tapi romantis rupanya tak banyak menyelesaikan persoalan. aku malah minta anggur dituang banyak-banyak, aku mau mabuk anggur di malam yang romantis, tapi tak berguna ini.

kau bagai bicara. engkau masih berani bicara? namamu telah lama tersaput mega, berarak bersorak meninggalkan aku sendiri. aku mencarimu, lama aku mencarimu. ingin kupulangkan bayanganmu yang mengganduliku. lorong-lorong yang kususuri menyisakan apek keringatku, resahku dan pesingku. aku mencarimu: engkau dimana?

pernah kususuri waktu, bersama gerbong-gerbong pengangkut sapi sampai ujung rel stasiun pasar turi. kutanya pada coretan-coretan dinding yang menjawab dengan canda: amir cinta nuki dan berderet-deret tulisan yang kurang kupahami: 43OTsiaptempur!, Letoy was here, bangsat, ngewe, yang kencing anjing, BOEDOET dan lain lain dan lain lain...

kakiku sudah lama tidak percaya pada langkahku. bahkan ingatanku membual akan bayangmu. aku tak percaya bahwa engkau sekarang sudah tua, apalagi sudah menikah. pernah ia mencoba meyakinkanku engkau ada di panti jiwa, menderita gila dan suka bicara sendiri. memang menyebalkan berdebat menyakinkannya, aku sudah lama tak lagi menghiraukan bisikan-bisikannya. ingatan memang selalu punya cara-cara untuk mengecoh perasaan kita. aku merasa aku selalu mencarimu, engkau tahu itu?

mengapa begitu segan kau tinggalkan sedikit jejak. secarik surat atau kode-kode morse atau apalah. aku tau morse, pernah guruku menghukumku menghapal morse. kau ingat? engkau disana melirik padaku!
ini penghujung malam, purnama hampir lewat. sebentar lagi bising berdesakkan pada jalan. aku juga akan terdesak, terpinggirkan. tapi tak mengapa karena aku juga terkadang lelah. minggir sejenak dan merebahkan sedetik dua detik kakiku dan mimpi-mimpi datang menghibur.

sehelai daun jatuh. mengingatkan waktu pada akhirnya akan melapukkan aku, mungkin juga merenggut bayanganmu. maafkan aku. aku mencarimu, sedang engkau berpaling dariku!

Bangkok,
1desember08

hanya pesan

Hari bisa saja menghitung kepedihan kita,
tapi biasanya mereka hanya lewat tak begitu perduli
Mungkin ada yang terkenang
karena sejumput rasa
memang kadang tertinggal pada sudut ingatan
Bukan niatanku datang memaksa
hanya sekadar berbagi pesan mengingatkan
di hari mati tak kumau ada sesal
Kalau memang takdir mengguratkan keharusan
kita juga akan bertemu lagi
di lain kesempatan
di lain keriangan

Bangkok, 06oct08
pada nisanmu adalah namaku, pada namaku tertaut bintang

Aku Tak Hendak Bicara

 







kau diam tak mengapa karena aku pun tak hendak bicara
bukan karena telah habis rasa di antara kita
tapi kata terkadang tak menambah makna!

 


Bangkok, 11.36

KuCatat Engkau


...
pada tiap batang pohon pinus,
pada tiap bongkah batu karang,

pada tiap pantai,
pada tiap gunung,
pada awan ya
ng berarak,
pada angin yang mendesir,
pada nafas yang menderu
ada hati yang merindu....


Bangkok.
10:15

aku tinggal kau pergi!


tiga kali
kecupan selamat jalan
terlalu ringkih untuk dikenang

tapi apa daya?
sirene kapal
tak lagi mau menunggu

aku harus meninggalkan engkau pergi
jadi biarkan saja gerimis jatuh
meleleh perlahan pada belahan dadamu
kudekap tak akan kulepas lagi

Bangkok,
9.17 pm

Joe Louis Puppet Show - Ganesha


Bulan ini saya 2 kali nonton pertunjukkan theater di Suan Lum (Joe Louis Puppet Show). Ini adalah salah satu pertunjukkan topeng tradisional Thailand yang masih bertahan. Cerita keduanya sama sehingga saya hapal:

Begini ceritanya -

Kumarn, putra Uma. Ia lahir dari keringat ibunya dan mendapat berkah air kehidupan dari Dewi Kongka. Kumarn ditugaskan sang ibu untuk menjaga gerbang istana dari serbuan Asura yang bernama Taraka.

Saat Shiva pulang dari pertapaannya, ia dihalangi-halangi untuk masuk ke istananya dan ditantang berperang. Shiva marah dan memenggal kepala sang bocah.

Uma mendengar jerit putranya dan mendapati putranya telah meninggal ditangan ayahnya sendiri. Uma meratap, ia sangat marah dan berubah wujud menjadi Dewi Kali yang menakutkan. Setelah sadar bahwa ia telah membunuh anaknya sendiri, Shiva merasa menyesal dan menghibur Uma bahwa ia akan menghidupkan kembali putranya.

Shiva memerintahkan Visukam untuk pergi ke utara dan memenggal kepala makhluk hidup pertama yang ditemuinya. Visukam memenggal kepala anak gajah. Shiva menyatukan kepala gajah tersebut pada tubuh anaknya dan sesaat kemudian ia hidup kembali. Shiva memberi nama anaknya GANESHA.

Beberapa saat kemudian, datanglah Indra melaporkan kesaktian Asura Taraka yang menyerbu sorgaloka. Shiva memerintahkan Ganesha untuk melawannya. Asura Taraka memang sangat sakti berkat anugrah dari Brahma, tidak ada dewa yang akan sanggup membunuhnya kecuali anak Shiva.

Akhir cerita, Asura Taraka mati di tangan Ganesha dan Ganesha menjadi dewa yang disegani.


Cerita tentang Ganesha ini bersumber dari India. Banyak modifikasi dari versi menurut Veda dan modifikasi ini terjadi bukan hanya di Thailand. Saya yakin bahwa cerita tentang Ganesha ini akan berbeda di Jawa dan Bali.

Salam,
Shiva di Thailand dikenal sebagai Phra Issuan

ExPLORER


3 bulan di Bangkok. Jadi turis? No Way...

Di Bangkok lebih enak jadi explorer, kerjaannya menyesatkan diri (get lost) dan coba-coba cari yang menarik sepanjang jalan. Bangkok emang kota untuk dinikmati, amat sangat aman bila dibandingkan jalan-jalan sendirian di Jakarta. Juga bersih!

Sempet kepikiran kenapa kok disini lebih semangat jalan sana jalan sini, padahal kalo dipikir-pikir, tempat-tempat yang diiklankan di buku panduan wisata biasa-biasa aja. Yah menarik sih untuk ukuran turis, objek photo-photo buat dijadikan kenangan.

Rasanya sejauh ini cuma chaktucak week end market yang gak ada bandingannya di jakarta. Tapi itu bukan berarti gak ada tandingannya!

Plus temple-temple and wisata sungai (Chao Praya and khlong2/kanal di bangkok masih berfungsi 100% sebagai sarana transportasi, juga wisata sungai).

Plus MRT (sub way) dan BTS (sky line) yang gak ada juga di jakarta.

Plus keamanan, yang bener-bener jakarta gak punya!!! di Bangkok maksimal tourist scam, tanpa kekerasan terlibat. Di jakarta minimal di copet maksimal di rampok + diperkosa + dibunuh (busyet sadis banget ternyata Jakarta!)

Tapi suwer tekewer kewer, buat Bang Fauzi Bowo (Gubernur Jakarta masih kan?), jangan ente berkecil hati Bang! Jakarte juge punye potensi... nih kalo gak jelas ane kasih ente penjelasan:

1. Pasar kue pagi buta di terminal senen.... Jadikan objek wisata kuliner, lah ini tempat menakjubkan tapi gak ada di buku panduan wisata jakarta.

2. Tukang jualan viagra, kondom dan cialis sepanjang jalan hayam wuruk dan gajah mada, gak ada juga tuh di negara lain (minimal thailand yang terkenal dengan wisata kulimeXXX-nya, gak ada tempat yang sedasyat ini). Teman saya dari Malaysia sampai shock and insist want to shoot with his handy cam when i took him here!!!

3. Pasar antik di jalan Surabaya (wah katanya mau digusur yah?)

4. Taman LaWANG. suer ini objek wisata juga loh. Jangan di anak tirikan mereka. Bencong-bencong di thailand punya industri sendiri yang gak melulu esek-esek. Ladyboy show di bangkok aja ada 3. Gedungnya megah-megah, padahal shownya bagusan jg tari kecak!!!

5. Taman ismail Marzuki... coba direvitalisasi dikit. Jadiin kayak SIAM NIRAMIT di thailand. Kirim tuh para ajudan ente tour ke bangkok liat siam niramit, buset show nya tiap malem penuh sama turis. Ada kali 5000 orang sekali show. PAdahal, kalo mau, cuma nampilin TARI KECAK, TARI SAMAN, RAMPAK GENDANG, REOG PONOROGO plus LEGONG BALI... lewat tuh semua!!!

6. Monas. Jangan dikira monas gak punya potensi. Cuma masalahnya gak aman aja, padahal enak loh nyantai-nyantai di monas. Kayak gak di jakarta hehehe

7. Kota tua & Museumnya. Busyet terakhir tuh ke museum kayak masuk rumah kosong aja. gak ada barang-barangnya, sampe bingung ini museum apa bukan?

8. Pulau seribu. LAh kite aje orang jakarte gak tau gimana caranya ke pulau bidadari?

9. Makanan PAdang. Perintahkan semua rumah makan padang menyajikan makanannya secara "padang".... tumpuk semua piring and bawa oleh seorang pelayan. Turis apreciate gayanya, walaupun rasanya gak cocok di lidah mereka hehehe

10. jadikan glodok dan kota "pecinan seutuhnya"... turis suka wara wiri di tempat2 yang eksotis. bukan masalah rasis tapi ini murni bisnis

11. Tanah abang juga daerah wisata... gak ada pasar begitu di luar negeri

12. Mall2 di jakarta gak kalah gede dan mewah buat ukuran asia. jangan gak pede, turunkan bea masuk, biarkan semua orang kaya di Indonesia dan di seluruh dunia belanja di Jakarta!!!! jangan biarkan orang kaya jakarta belanja di singapura atawa hong kong!!!!

13. Taman mini indonesia indah. Ini murni warisan orba (utamanya ibu Tien). Tapi jangan dimusuhin ding. Jadikan ini indonesia mini betulan, gak banyak orang yang tau kalo indonesia punya 13,776 pulau and ribuan bahasa daerah!!!!

14. banyak lagi deh bang.. asal serius ame keamanan semua bisa diatur. Tinggal angkut tuh semua turis dari bali ke jakarta. kasih iming iming penerbangan murah dari bali - jakarta - bali
bejibun tuh turis pade dateng.....

15. Amin deh Bang, di doain dari Bangkok. Semoga jakarte makin maju aje.

Salam,
Dirgahayu Jakarta, BTW kenapa namanya jakarta ye? pan dulunye Batavie